Faktabangsa.com | Indramayu – Pengecoran di proyek rekonstruksi jalan Rambatan-Kenanga terpantau tengah berlangsung. Dalam pengerjaannya, publik menyoroti serius akan jaminan standar teknis yang diterapkan pelaksana, pada Rabu (15/07/2026).
Hasil cek dan ricek tim media di lokasi sekira pukul 17.57 WIB, tidak menyaksikan adanya tanda-tanda kehadiran pengawas konsultasan. Padahal, diwaktu tersebut ready mix (beton) sedang ditumpah dari mobil batching plant.
Ketiadaan pengawas konsultan disaat pengecoran berlangsung, dikhawatirkan akan mempengaruhi konsistensi ketataan kontrakor dalam menjaga mutu dan standar teknis pelaksanaan.
Bukan hanya itu, tim media juga menyoroti jarak pemasangan besi dowel yang berfungsi sebagai penyalur beban antar pelat. Komponen ini memastikan transisi beban kendaraan mulus, mencegah penurunan atau kerusakan sambungan (faulting), serta memberikan ruang bagi pelat untuk memuai atau menyusut akibat perubahan suhu tanpa menyebabkan keretakan.
Terpantau secara langsung di lokasi, jarak pemasangan dowel pada pengecoran jalan tersebut diperkirakan lebih dari 25 meter untuk setiap titiknya. Metode ini perlu dipertanyakan mengenai kesesuaiannya, apakah sudah sesuai dengan semestinya atau justru sebaliknya.
Ketiadaan pihak yang berkompeten dari perusahaan penyedia (pelaksana) dan pengawas konsultan di lokasi saat itu, mengakibatkan minimnya informasi yang diperoleh mengenai standar teknis pengerjannya.
Dugaan yang lebih memprihatinkan, yakni mengenai alat pemadat beton (concrete vibrator) tidak terlihat tanda-tanda keberadannya. Para pekerja proyek terlihat meratakan dan memadatkan beton yang masih basah hanya dengan menggunakan alat seadanya.
Sebagaimana diketahui, fungsi utama vibrator beton adalah memadatkan adukan beton segar saat proses pengecoran. Alat ini bekerja dengan cara menggetarkan adonan untuk mengeluarkan gelembung udara yang terperangkap, memastikan material mengalir sempurna di sekitar rangka besi, serta mencegah struktur menjadi keropos.
Ketua WN 88 Indramayu, Ahmad Nur Irsyad yang menyaksikan secara langsung proses pengecoran tersebut merasa miris atas ketiadaan konsultan pengawas, pihak perusahaan penyedia, serta alat pemadat beton (concrete vibrator).
Menurutnya, alat concrete vibrator mimiliki peran krusial dalam pekerjaan pengecoran karena dapat menjaga keutuhan mutu beton. Kehadiran pengawas konsultan juga tidak kalah penting untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai dengan standar biaya, waktu, dan mutu yang telah disepakati.
“Sangat miris, alat concrete vibrator tidak terlihat di lokasi, padahal perannya sangat penting. Begitu juga dengan konsultan pengawas yang seharusnya standby dari awal hingga berakhirnya pekerjaan,”Ujar Irsyad menggelengkan kepala.
Di lokasi, tim juga melihat papan bekisting jenis plat besi yang sudah berkarat dan nyaris jebol masih digunakan dalam pengecoran tersebut. Hal itu dikhawatirkan tidak mampu untuk menahan beban berat beton.
Diketahui, proyek rekonstruksi jalan Kenanga-Rambatan tersebut bersumber dari APBD Indramayu tahun 2026 senilai Rp.1.650.918.000. Pekerjaan ini dibawah naungan Dinas PUPR, dan CV Jayson Wijaya dipercaya untuk bertindak sebagai pelaksana.
Irsyad menekankan kepada Dinas PUPR Indramayu agar supaya meninjau ulang dan melakukan evaluasi proyek tersebut secara total. Langkah demikian, kata dia, penting untuk dipenuhi guna mencegah terjadinya dugaan penyimpangan yang berpotensi merugikan keuangan negara.
Sementara, belum ada penjelasan resmi dari konsultan pengawas maupun Dinas PUPR Indramayu tekait pelaksanaan proyek yang dihantui keraguan standar teknis tersebut. Hingga berita ini disusun, upaya konfirmasi masih dilakukan.
(Faktabangsa.com)

